awan sinta_effected.jpg_effected

Kalian boleh bilang, “Apalah artinya cinta buat anak SD,” bahkan saya pun sampai sekarang tidak pernah menyebutnya sebagai satu hal yang nyata.

* * *

Kami berada dikelas yang sama pada masa sekolah dasar. Waktu itu saya hanyalah seorang anak kampung yang kebetulan pindah ke kota, seorang anak baru di lingkungan yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Sebagai murid baru, saya dipersilahkan untuk bergabung dengan kelompok belajar yang ada di kelas tersebut. Beberapa kelompok kecil tersebut dinamai dengan nama pahlawan. Pangeran Antasari, sebuah kelompok yang kebetulan beranggotakan perempuan semua meminta saya untuk bergabung menjadi anggotanya.

Memasuki tahun kedua bersekolah tepatnya menginjak kelas enam, saya semakin akrab dengan teman-teman baru saya. Dengan kelompok Pangeran Antasari, khususnya dengan seorang teman perempuan yang saat itu tubuhnya jauh lebih tinggi dari saya; Shinta.

Shinta dan saya terhitung lebih dekat dari teman-teman lainnya. Kegemaran kita menggambar membuat kami lebih nyambung saat cerita. Shinta menawarkan banyak komik yang ia gemari, salah satu yang saya ingat dan ikut membacanya adalah Dr. Rin.

Hal kecil lain yang membuat kami berdua menjadi dekat adalah keinginan kami yang pada saat itu sama. Menjadi awan. Bagi saya, alasan menjadi awan adalah karena saya yang banyak menghayal tinggi, seperti awan. Saya ingat betul Shinta dengan antusias menungkapkan betapa inginnya ia terbang, dan melihat dunia dengan mudah dengan menjadi awan.

Dari kesamaan tersebut, kami melanjutkan persahabatan dengan membuat cerita-cerita khayalan, hingga membuat bahasa khayalan: bahasa Awan. Cheesy, kalian bilang, tapi untuk anak-anak SD seperti kami saat itu yang masih naif semua hal klise, cheesy, dan picisan sah-sah saja untuk dijadikan impian serta kami banggakan.

* * *

019_0004 copy26 April 2003, hampir sepuluh tahun yang lalu, di hari ulang tahun saya Shinta memberi sebuah hadiah -Sebuah pulpen merk Faster hijau warna kesukaan saya dan sebuah glowing stick bracelet yang juga hijau. Saya ingat betapa cintanya Shinta saat itu pada pulpen belang bermerk Faster, hampir semua buku catatannya dipenuhi coretan-coretan dengan tinta biru, warna kesukaanya. Saya masih menyimpan kartu ucapan buatan tangannya di buku harian.

* * *

Entah akhir SMP atau SMA, saya tidak begitu ingat kapan tepatnya, tapi jelas betul rasa kaget yang saya rasa pada saat itu. Mendapat kabar bahwa Shinta meninggal setelah menderita penyakit Lupus.

Reuni SD yang sempat saya hadiri beberapa tahun lalu membangkitkan cerita dan kenangan kami beberapa teman Pangeran Antasari tentang Shinta. Hal yang membuat saya begitu tersanjung sekaligus kaget adalah pengakuan Shinta pada sahabat perempuannya kalau dia sempat menyukai saya.

Orang-orang mungkin mengenalnya dengan istilah cinta monyet. Bagaimana jika cinta monyet ini satu bagian dari sepotong cerita cinta singkat yang bisa dirasakan —meski mungkin menjadi hal yang disesali hehe..— karena sang empunya hanya memiliki sedikit waktu. Kata yang dapat mewakili rasa tersanjung saya hanyalah: Terima kasih untuk Cinta (monyet)-nya.

Sibuk Sendiri

Setiap kali kalau mau ketemu perasaan saya kadang gak jelas; harus seneng atau galau.

Padahal udah lama kangen. Pengen ketemu banget. Tapi saya tau kalau ketemu bukan khusus buat menghabiskan waktu bersama saya, pasti berakhir dengan sibuk sendiri. Dia yang gak bisa diam pasti cari perhatian kesana kemari. Begitu juga saya yang cuma diam melihat dari jauh dan sibuk dengan kegiatan saya sendiri. Meskipun di ruangan yang sama.

Bahkan kadang, kalau sama teman-temannya, dia akan jadi seperti menyebalkan. Atau perasaan saya aja ya?

Padahal, kalau biasanya hanya kami berdua dia jadi sok dewasa dan mengayomi meski tetap dengan gayanya yang menyebalkan. Menjijikan memang untuk mengakuinya, tapi saya akui hal-hal itulah yang membuat saya sangat kangen.

Sedangkan dia, mungkin akan cuek dan gak peduli.

Saya yang merasa kehilangan.

Saya yang sering merasa kesepian diantara kesibukan-kesibukan yang tidak kunjung berhenti.

Short Story: Special Mark

Flop!

Aku terperanjat seraya meraba-raba mencari sumber bunyi.

Snap! 1 Message received.

Ada satu nama Dylan diantara sekian banyak nama –Riri, Stevie, Geena– yang berulang kali muncul di LCD ponselku ini.

Aku sisipkan tanda pagar di depan namanya.

#Dylan.

Just in case, kalau butuh sesuatu, aku hanya perlu menekan satu kali keypad up. It’s a special mark.

Isi pesannya singkat: “Tutor kalkulus jadinya jam berapa?”

Dilain hari, pesannya bahkan lebih singkat lagi atau malah, ponselku ‘bersih’ dari pesannya  karena tidak ada lagi yang perlu ditanyakan. Tidak ada pesan seharian. Meski aku tunggu.

Ya, kita simpulkan, keadaan tidak berjalan seperti harapan yang selama ini berkecamuk, menari-nari didalam tempurung kepalaku ini. Selalu tidak berjalan sesuai harapan.

HEI!  Aku pernah berada di situasi ini sebelumnya! Baiklah, kuakui bukan hanya ‘pernah’, melainkan aku hidup ditengah-tengah sebuah roda yang terus berputar dan membentuk pola yang sama. Entah empat, lima, enam kali aku akhirnya selalu kembali di situasi menunggu-berharap-pesan-seseorang. Semuanya terasa tidak mudah. Dan memang tidak pernah mudah.

Lalu, apa lagi?

Aku sudah tahu persis bagaimana ‘cerita’ ini berakhir.

* * *

 

Flop!

1 Message received.

Itu Dylan.

Dylan yang sama, tapi tidak lagi spesial.  Tidak ada lagi tanda pagar di depan nama kontaknya. Aku menghapusnya. Sebulan yang lalu. Sejak aku pikir, “Hampir semua orang spesial, tidak perlu dipilih siapa dan yang mana. Orang yang paling spesial bukan orang yang diberi ‘special mark’ di namanya, melainkan yang menyadari bahwa diri kita sama spesial untuk dirinya.”

* * *

24 December 2010

Image from here