Marah

Shattering dreams

Saya bisa aja marah dan memaki-maki sampai waktu yang lama kemudian enggan berbicara atau membuat percakapan dengan orang itu. Sama sekali!

Tapi rasanya saya tidak mungkin melakukannya hanya karena emosi sesaat.

Ya, kalau ada alat penghitungnya, entah sudah berapa kali orang tersebut membuat saya kesal. Selalu kekesalan saya ini diawali dengan sifatnya yang terlalu moody bahkan tanpa alasan orang itu bisa saja tiba-tiba marah, diam, dan bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan ketus. Bagaimana tidak mengesalkan?

Jelas saya tidak tahan, tapi mengingat sifat saya yang sulit untuk membawa lagi suasana menjadi biasa setelah terjadinya konflik, saya berusaha untuk menahan amarah dan selalu mengalah hingga bahkan mengevaluasi diri dimana salah saya.

Saya lebih dewasa dan orang yang lebih baik,” percaya atau tidak, kalimat klise ini menjadi pengingat saya kalau-kalau saya lepas kontrol.

Tapi manusia ada batas kesabarannya kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s