Tentang Menangis


Agia yang dari tadi duduk di sebelah saya sambil membaca majalah, tiba-tiba menoleh. Kemudian bertanya, “Emang, kenapa cowok gak boleh nangis?”

Terdengar random, tapi dia mau menyurvei kutipan artikel dari majalah yang dia baca. Lalu saya jawab.

Inti dari apa yang saya jawab saat itu adalah: “Cowok boleh nangis, tapi gak di depan cewek. Supaya keliatan tegar.”

Saya sadar, jawaban itu cuma sekenannya. Cenderung ke jawaban ‘yaaaa, gitu deh’.

Saya yakin semua sadar kalau kita seringkali mementingkan image yang baik di depan orang lain. Contohnya, untuk beberapa hal, terkadang kita gak akan milih menangis di depan orang yang kita kagumi. Alasannya, jaga image. Jaim.

Lama-lama istilah jaim itu jadi alat dehumanisasi buat kita sendiri.

Kita hampir kehilangan empati kita, saat ngeliat seorang tuna netra yang renta berjalan sendirian.

Kita hampir lupa caranya merasakan terharu karena kebahagiaan dan rasa syukur berterimakasih.

Dan kapan terakhir kali kita menangis karena menyesal lalu meminta maaf?

Hampir mati rasa.

Bukan masalah boleh atau tidaknya mengangis. Bukan masalah jaga image. Tapi, masalah masih adakah empati terhadap orang lain?

Ya, tidak semua orang merasakan ini memang. Tapi, ini bisa menjadi bahan instropeksi. Untuk kita dan paling utama untuk saya.

*Image from here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s